SIDE-PROJECT REUNI MENOLAK ALAMI STAGNASI

Oleh: Syaifullah Evol Maruf


Berlandaskan passion yang tak kunjung padam, Fadly (bass) mencoba mengumpulkan kembali Yaya (gitar) beserta Onild (vokal) guna membentuk side-project. Band yang merupakan wadah mereka untuk kembali reuni, setelah sebelumnya pernah berada di band yang sama. Bermodal semangat, ide, visi dan misi yang selaras, ketiganya sepakat mendeklarasikan diri sebagai EPYSENTRUM di tahun 2015. 

“Epysentrum”, bagi trio grindcore asal Makassar ini memiliki makna sebagai titik pusat, dimana segala sesuatu hal berjalan sesuai jalur masing-masing, yang kemudian dapat memicu ledakan yang tidak diduga. Sebuah definisi yang memacu mereka bertiga untuk tidak mengalami stagnasi dalam berkarya.

Belajar dari pengalaman saat bersama di band sebelumnya, Epysentrum tidak menyia-nyiakan tiap ide yang ada untuk menjadi karya. Agar mampu menjalankan invasi dengan cepat, Epysentrum memutuskan untuk menggunakan mesin drum. Namun tak ayal, kesibukan masing-masing personil membuat progress mereka tertunda.

Setahun setelah terbentuk, proses rekaman dimulai. Namun, butuh dua tahun hingga akhirnya masuk ke tahap mixing & mastering. Bertempat di home studio Murder Disco, 5 (lima) track dipoles. Yang mana salah satu lagunya ikut meramaikan daftar di album kompilasi Celebes Extreme Musick #2 “Torture Existence”, sebuah kompilasi berisi band-band underground Sulawesi yang rilis pada 26 Februari 2018 di bawah bendera Venomous.

Genap tiga tahun keikutsertaan Epysentrum dalam kompilasi tersebut, di hari pertama Ramadhan 1442 H tepatnya 13 April 2021 mereka melepaskan EP perdana bertajuk “Selft Title” dalam format CD secara independen. Dicetak terbatas beserta merchandise-nya sebanyak 50 keping, mini album ini menjadi representasi paham DIY yang mereka anut.

Dengan durasi total sekitar 12 (dua belas) menit, kepingan “Selft Title” terdiri dari 4 (empat) nomor dari Epysentrum dan 1 (satu) lagu cover milik Emergency. Dengan dibalut sound yang kontras, menegaskan tiap instrument di dalamnya secara lugas. Sajian riff-riff ngebut, betotan bass tebal, dan vokal growl yang khas, seolah menampakan dystopia di setiap jeweran ke telinga anda.

Track list:

1.     Anastesi Syaraf (2:21)

2.     Dekadensi (2:20)

3.     Fertilasi Darah Busuk (2:44)

4.     Konfigurasi Hitam (1:43)

5.     Killing Field (Emergency cover) (3:43)

Seperti band grindcore pada umumnya, tema penulisan lirik Epysentrum masih berkutat pada masalah kesenjangan sosial, politik dan realita kehidupan sehari-hari. Diolah secara subjektif dari sudut pandang mereka masing-masing. Dan kini, trio yang ter-influence dari Misery IndexNapalm DeathTerrorizerBrujeriaBrutal Truth ini, tengah mempersiapkan materi untuk album penuh perdana mereka. Grind on!

---------------------------

Band: Epysentrum

Origin: Makassar, South Sulawesi, Indonesia

Formed in: 2015

Genre: Grindcore

Members: Fadly (bass), Yaya Holeink (guitar), Badar a.k.a. Onild (vocals)

Extended play (EP): Selft Title

Release date: April 13th, 2021

Label: - (independent)

Format: CD

Limitation: 50 copies

Mixing & mastering: Yaya Holeink

Font art: Shopan van de font

Cover artwork: Yaya Holeink

 

Contact:

+62 813 5500 7621 (Yaya)

Facebook: Epysentrum

Instagram: @epysentrum_

Bandcamp: Epysentrum

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PARTY CHAOS Merilis Mini Album Self Titled

EXTREME DECAY Lepaskan Video “Dekomposer” dan segera mengedarkan Vinyl 12" Downfall Of A God Complex di Indonesia