BONE UNDERGROUND: SUBSTANSI DAN MISI EDUKASI
Penulis: Syaifullah Ma’ruf
“Mosh for fun not for violence” adalah jargon yang digaungkan oleh Bone Underground, sebuah komunitas pergerakan musik bawah tanah yang menjadi wadah bagi pelaku dan musisi independen di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Komunitas yang terbentuk di awal tahun 2023 ini menjadikan penyatuan berbagai komunitas musik di Bone sebagai salah satu visinya.
Sesuai jargonnya di atas, Bone Underground secara gencar melakukan kampanye kepada setiap audience, baik secara langsung saat di gigs, maupun lewat postingan di sosial media bahwa tujuan moshing bukanlah untuk menyakiti orang lain secara sengaja melainkan untuk bersenang-senang. Bahkan Bone Underground tidak segan-segan mengusir oknum provokatif yang berpotensi menimbulkan kerusuhan di setiap acara yang mereka gelar.
Hal ini dilakukan bukan tanpa dasar yang kuat, mengingat skena di Bone – yang berdasarkan penulusuran author – merupakan skena yang cukup ‘panas’. Belum lekang dari ingatan, salah satu acara yang berlangsung pada bulan Maret lalu dibubarkan oleh pihak berwajib karena terindikasi dapat mengganggu ketertiban umum (sumber: detiksulsel [https://www.detik.com/sulsel/berita/d-6626665/polisi-bubarkan-konser-musik-underground-di-bone-gegera-ganggu-kamtibmas]).
Berangkat dari beberapa pengalaman yang tidak mengenakkan terkait pembubaran acara, Bone Underground menyusun taktik gerilya dengan menyasar studio musik dan kafe-kafe sebagai venue gigs ‘berkedok’ bazar untuk menghindari pembubaran oleh pihak berwajib akibat crowd yang tidak terkontrol. “Kami sengaja memakai kafe-kafe sebagai tempat eksplorasi seni, karena tempat itu milik swasta dan punya izin dalam berkegiatan, contohnya live music. Kita menyusup ke situ.”, ungkap Ami Demmattayan, salah satu sosok di balik terbentuknya Bone Underground.
Terhitung sejak terbentuk, Bone Underground telah mengadakan gigs sebanyak empat kali. Di antaranya Rumah Vintage, Showcase Split, Merdekarya, dan yang terbaru Revisi Stigma. Penerapan ticketing mulai dilakukan pada Revisi Stigma yang berlokasi di Saoraja dengan target audiens sebanyak 200-an orang. Acara tersebut terbilang kondusif, meskipun ada dua band yang tidak sempat menuntaskan penampilannya akibat adanya isu bahwa acara tersebut akan dibubarkan oleh pihak berwajib. Very difficult!
Bone Underground benar-benar memiliki PR yang cukup banyak. Mulai dari menanamkan kesadaran tentang substansi moshing di area mosh-pit, menghindari pembubaran acara oleh pihak berwajib, menyatukan semua komunitas musik independen di Kabupaten Bone tanpa adanya sekat dan segregasi, serta puncak dari misinya adalah menghapus stigma buruk tentang pergerakan bawah tanah yang mereka jalani. Bukan perkara mudah, namun kawan-kawan Bone Underground sangat optimis mampu melakukannya.
Author secara pribadi sangat berharap bisa menghadiri langsung acara yang Bone Underground adakan kedepannya. Atau kalau tidak, bisa menyaksikan salah satu band asal Bumi Arung Palakka tersebut. Di sana terdapat beberapa band yang menurut author sangat potensial, seperti Kawat Karat, Eksekutor Mutilasi, Biksuh, Rigorous dan masih banyak yang lainnya. Hope it can come true.
Instagram: @bone_underground




Komentar
Posting Komentar